Konjen India Tawar Kerja Sama Undana
24/11/2017
article thumbnail

Konsulat Jenderal (Konjen) India menawarkan bantuan kerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) guna mengembangkan proses belajar-mengajar dengan jalan meningkatkan kerjasama, terutama di bida [ ... ]


Mahasiswa Bagian dari Kekuatan Perubahan
24/11/2017
article thumbnail

Mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) diminta harus beradaptasi dengan tuntutan pergerakan civil society yakni menjadi elemen mahasiswa itu sendiri sebagai bagian dari kekuatan perubahan dan sek [ ... ]


Artikel Lainnya

Bahas Pembangunan Daerah Tertinggal

  • Bappenas Gelar Seminar Akhir EKPD

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia menggelar seminar akhir Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) “Pembangunan Daerah Tertinggal” di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2017 di Ruang Aula Lantai Tiga Gedung Rektorat Undana, Senin (31/10). Dalam seminar tersebut ada dua daerah tertinggal di NTT yang dibahas yaitu Kabupaten Sabu Raijua dan Ende.

Kasub Direktorat Pemantauan, Evaluasi dan Pengendalian Pembangunan Daerah, Afwandi dalam sambutannya mengatakan, EKPD tahun 2017 ini sedikit berbeda, karena sebelumnya Bappenas bekerjasama dengan 37 Provinsi, sedangkan tahun 2017 ini Bappenas lebih fokus pada daerah-daerah yang tertinggal. “Kita tahu banyak daerah yang tertinggal, namun kita dalami dua kabupaten tertinggal di NTT, selain 7 Provinsi lainnya,” sebutnya.

Ia berharap, ada hal-hal yang bisa didalami, baik itu langkah-langkah konkrit yang dapat dilakukan untuk pengentasan kemiskinan di tahun 2019. Sementara, tahun 2018, Bappenas akan menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang Nasional (RPJMPN). Karena itu, hasil diskusi nanti diharapkan agar menjadi input dalam penyusunan RPJMPN. Ia mengaku, evaluasi yang dilakukan terlihat sangat sulit mencapai target yang ditetapkan, baik itu tentang evaluasi kebijakan pemerintah daerah dan bagaimana pusat-pusat pertumbuhan di NTT dan menyusun rekomendasi. “Semuanya dilakukan terhadap apa yang akan dicapai. Yang diharapkan adalah satu sampai empat evaluasi di dua Kabupaten , yaitu Sabu Raijua dan Ende secara mendalam,” katanya. Ia juga berharap, seminar tersebut dapat menjadi wahana interaksi dengan pemerintah kabupaten.

Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph. D dalam sambutannya mengatakan, kegiatan EKPD telah dilakukan selama 10 tahun. Dikatakan, ada sekitar 17 Kabupaten tertinggal di NTT, namun hanya Kota Kupang, Kabupaten Ngada, Flores Timur dan Sika, yang tidak terkategori sebagai daerah tertingga. Dari beberapa kabupaten tersebut, Sabu dan Ende merupakan yang paling tertinggal. Karena itu, katanya, Bappenas memusatkan dua daerah tersebut untuk dilakukan EKPD. Ia menyayangkan, beberapa kabupaten lain yang terkategori tertinggal, namun tidak melakukan upaya untuk beranjak dari ketertinggalan. “Ini ada kecenderungan psikologis adminstratif, dimana beberapa kabupaten enggan keluar sebagai daerah tertinggal karena asyik tertawan dengan anggaran Pemerintah Pusat,”kata Benu. Karena itu, ia mengajak semua peserta seminar agar melakukan diskusi mencari solusi terbaik. Salah satu upaya untuk beranjak dari ketertinggalan adalah memberdayakan industri lokal, agar ekonomi masyarakat bisa tumbuh, selain komoditas asli suatu derah yang dimiliki masyarakat.

Dr Agus Nalle ketika memaparkam Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Tahun 2017 Kabupaten Ende mengawali dengan menunjukkan capaian indikator dearah. Setiap indikator terbagi dalam criteria utama, misalnya untuk kriteria ekonomi, indikator persentase penduduk miskin pada tahun 2014 mencapai 20, 37 persen, namun pada tahun 2016 meningkat menjadi 23, 89 persen. Indikator pengeluaran konsumsi per kapita, paparnya, kondisi tahun 2014 sebesar Rp 575.520, namun pada tahun 2016 mengalami peningkatan menjadi Rp 621.554. Sementara, criteria utama sumber daya manusia dengan indikator angka harapan hidup pada tahun 2014 64,27 persen, sedangkan pada tahun 2016 meningkat sedikit menjadi 64,42 persen, begitupun dengan criteria pada infrastruktur yang memiliki berbagai indikator. Dengan melihat kenyataan tersebut, maka evaluasi kebijakan pengentasan daerah tertinggal di Kabupaten Ende tahun 2017 adalah, tertapat sinergitas pendekatan pembangumnan antara pemerintah pusat, Provinsi NTT dan Kabupaten Ende, yakni dengan memprioritaskan desa/kelurahan sebagau basis pembangunan daerah.

Hal tersebut, sebutnya, merupakan pengejahwantaan ‘membangun dari pinggiran’ oleh pemerintah pusat, ‘pendekatan desa/kelurahan’ oleh pemerintah provinsi. Sementara, evaluasi keterkaitan daerah tertinggal dengan pusat-pusat pertumbuhan di Ende, adalah, terdapat Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Komodo di Kabupaten Manggarai Barat dan PKN Danau Kelimutu di Ende dengan fokus pada wisata ekologis, petualangan, budaya dan bahari serta pariwisata berbasis UKM. Selain itu, paparnya, pengembangan potensi wilayah di Kabupaten Ende sejalan dengan pengembangan wilayah nasional, Provinsi NTT, serta Sikka dan Nagekeo sebagai kabupaten yang langsung meliputi dalam skala nasional, Kota Ende merupakan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).

Sementara, Dr. Agus Tiro dalam paparannya Evaluasi Kinerja Pembanguna Daerah Tahun 2017 Kabupaten Sabu Raijua mengatakan penyebab utama Sabu Raijua masuk dalam daerah tertingggal karena merupakan kabupaten baru, dan sewaktu masih menjadi Kabupaten Kupang pun kabupaten tersebut sulit mendapat perhatian pemerintah. Tak hanya itu, Sabu Raijua, katanya, merupakan daerah terkering di NTT, sehingga butuh perhatian pemerintah. Program kegiatan dalam rangka pengentasan daerah tertinggal di Kabupaten Sabu Raijua diantaranya adalah Program Desa Mandiri Anggur Merah, per desa Rp 250 juta, program desa wisata Rp 50 juta per desa, bantuan benih dan traktor, program hibah penghijauan berbasis masyarakat dan lainnya. Tak haanya itu, ada berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, pertanian, peternakan dan kelautan dan perikanan.

Di bidang Kelautan dan Perikanan serta Perindustrian dan Perdagangan menjadi menarik, karena terdapat perluasan tambak garam, saat ini sudah mencapai 66 ha, tahun 2017, tambak garam yang sudah dikerjakan seluas 114 ha dan direncanakan akan terus diperluas hingga 200 ha, pembangunan pabrik rumput laut tahun 2014serta infrastruktur lainnya. Ia memaparkan, capaian indikator Sabu Raijua, diantaranya adalah, indikator di bidang ekonomi, misalnya, persentase penduduk miskin, tahun 2014 yaitu 29,48 persen dan pada tahun 2016 meningkat menjadi 22,19 persen, pengeluaran konsumsi per kapita tahun 2014 sebesar Rp 4.784.000 dan pada tahun 2016 mencapai Rp 7.122.000. Ia mengatakan, rata-rata pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sabu Raijua dalam lima tahun terakhir sampai tahun 2016 sebesar 5,7 persen, sementara target RPJMN sebesar 5,90 persen. Target tersebut dapat dicapai oleh Kabupaten Sabu Raijua dengan meningkatkan kontribusi sektor pertanian, perikanan dan kelautan, adanya perbaikan aksesibilitas ked an dari Sabu Raijua dengan wilayah pertumbuhan lainnya terutama untuk kelancaran arus barang, jasa dan logistik.

Pantauan media ini, hadir Pembantu Rektor Bidang Akademik, Dr. David B. W. Pandie, MS, Pembantu Rektor Bidang Kerjasama, I Wayan Mudita, Ph.D, Kepala Bappeda NTT, Ir. I Wayan Darmawa, MT, para perwakilan Aparatur Sipil Negera dari Kabupaten Ende dan Sabu Raijua serta para tim EKPD. [rfl/ds]