PaKu Undana Gelar Aksi Tolak Angket KPK
19/09/2017
article thumbnail

MENYIKAPI persoalan yang dirasakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhir-akhir ini, Pusat Anti Korupsi (PaKU) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar aksi tolak hak angket Dewan Perwakilan Raky [ ... ]


MPR RI Lakukan Kajian Pendidikan dan Kebudayaan
15/09/2017
article thumbnail

Makalah Dosen Undana akan DibukukanDalam rangka melakukan kajian terhadap masalah pendidikan dan kebudayaan di Indonesia, khsusnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Lembaga Pengkajian MPR RI bekerja [ ... ]


Artikel Lainnya

Menristekdikti: Gotong-royong Bangun Pendidikan

MESKIPUN pencapaian bangsa Indonesia ditandai dengan menurunnya angka kemiskinan, tingkat pengangguran, meningkatnya peluang dan akses terhadap fisik pendidikan, kesehatan dan lainnya. Namun, dibalik pencapaian tersebut, terdapat beragam problem yang menjadi tantangan baik di tingkat lokal, regional maupun global. Karena itu, salah satu cara yang harus dilakukan untuk membangun pendidikan, khsusnya pendidikan tingi adalah dengan cara gotong-royong.

“Mari kita bersama-sama membangun bangsa ini, bergotong-royong, bahu-membahu, bersinergi dan saling melengkapi mewujudkan Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur,” ungkap Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Prof. Mohamad Nasir, Ph.D dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D pada upacara memperingati Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-72 di Lapangan Bola Kampus Undana, Penfui, Kamis (17/8) pagi.

Menristekdikti, menyebut, salah satu tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini adalah persoalan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia, ungkapnya, memiliki tingkat pendidikan rendah dan terkategori tenaga kerja tidak terlatih atau berkeahlian rendah-menengah. “Hal ini menjadi tantangan di tingkat produktivitas ekonomi dan juga mempengaruhi daya saing kita di tingkat regional dan global, karena persaingan dalam era globalisasi ini sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia,” sebut Prof. Nasir.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenristekdikti telah menetapkan tujuan strategi 2019 yang akan dicapai yaitu: “Meningkatkan relevansi kuantitas dan kualitas sumber daya manusia berpendidikan-tinggi, serta kemampuan Iptek dan inovasi untuk keunggulan daya saing”. “Saya yakin dengan bekerjasama kita capai tujuan strategis tersebut. Mulai dari diri kita, lingkungan sekitar kita dan institusi kita,” ujarnya.

“Bangun budaya anti plagiat, budaya keilmuan yang menghasilkan inovasi dan karya bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat, membangun budaya kampus yang bersih, anti korupsi, anti narkoba, dan bebas dari faham radikalisme, membangun kesantunan, memperteguh jiwa Bhineka Tunggal Ika dan Panasila,” tambah Menristekditi. Selain itu, ia menjelaskan, kerjasama antar perguruan tinggi, institusi riset dan industri merupakan sebuah strategi dalam meningkatkan nilai tambah hasil penelitian menjadi sebuah inovasi produk iptek berskala pasar. “Dengan bekerjasama antar berbagai lembaga dan industri akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas penciptaan inovasi,” imbuhnya.

Menristekdikti juga menyoroti kebebasan berekspresi melalui media sosial yang disalahgunakan untuk memecah persatuan bangsa. “Oknum yang tidak bertanggungjawab menyalahgunakan media sosial untuk menebar kebencian, hujatan, hasutan, informasi hoax, serta paham radikal. Berbagai konflik telah dan bahkan tengah berlangsung untuk menguji persatuan Indonesia. Padahal, untuk menjadi negara yang maju dan bersaing, maka persatuan adalah prasyarat kunci,” tandas Prof. Nasir.

Untuk itu, ia mengajak segenap komponen bangsa, yang ada di perguruan tinggi agar kembali ke Bhineka Tunggal Ika, diantaranya dengan merekatkan persatuan bangsa, menyemai kebebasan yang bertanggungjawab, dan bersama-sama menangkal radikalisme. “Kita tidak memerlukan senjata, namun pengetahuan dan pendidikan yang baiklah yang dapat menangkalnya,” ujar Menristekdikti. Ia mengajak, semua komponen di perguruan tinggi agar bekerja sama membangun riset, teknologi dan pendidikan tinggi dengan penuh integritas, etos kerja dan semangat gotong royong serta selalu mengedepankan kepentingan dan masa depan bangsa Indonesia.

Pantauan media ini, disela-sela upacara bendera diisi dengan penganugerahan penyematan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada sejumlah dosen dan pegawai Undana yang telah mengabdi selamat 10, 20 hingga 30 tahun. Usai upacara, ditampilkan dengan marching band dari mahasiswa, permainan musik sasando, tarian yang dibawakan oleh mahasiswa asal Papua dan ditutup dengan tarian Ja'i bersama antara Rektor, dosen dan pegawai Undana. [rfl/ovan/ds]