Konjen India Tawar Kerja Sama Undana
24/11/2017
article thumbnail

Konsulat Jenderal (Konjen) India menawarkan bantuan kerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) guna mengembangkan proses belajar-mengajar dengan jalan meningkatkan kerjasama, terutama di bida [ ... ]


Mahasiswa Bagian dari Kekuatan Perubahan
24/11/2017
article thumbnail

Mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) diminta harus beradaptasi dengan tuntutan pergerakan civil society yakni menjadi elemen mahasiswa itu sendiri sebagai bagian dari kekuatan perubahan dan sek [ ... ]


Artikel Lainnya

Gubernur Minta Wisudawan Tidak Berorientasi Jadi ASN

  • Rektor Undana: Keberhasilan Wisudawan tak Ditentukan IPK Tinggi

GUBERNUR Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya meminta agar para wisudawan Universitas Nusa Cendana (Undana) yang diwisuda pada periode September 2017 agar tidak berorientasi menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). “Seribu langkah dimulai dari langkah pertama. Jangan harap jadi pegawai negeri sipil, atau ASN. Bukan tidak boleh. Tapi jangan menaruh harapan satu-satunya jadi ASN, apalagi sekarang ini sudah zero (nol), sudah susah,”kata Lebu Raya saat memberikan sambutan pada acara Dies Natalis ke-55 Undana, dan Wisuda Doktor, Magister, Profesi dan Sarjana Periode Ketiga 2017, Senin (4/9) di Aula Undana.

Pihaknya yakin, dengan ilmu dan teknologi yang dimiliki, para wisudawan bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. Karena itu, ia menyampaikan terima kasih kepada Undana yang telah menghasilkan sumber daya manusia di NTT. Dengan adanya stataus Undana sebagai universitas dengan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU), Undana harus membangun jaringan dengan berbagai pihak. “BLU sebagai ruang, juga tantangan. Harus membangun jaringan yang lebih kuat. Tidak sekedar membangun Undana tetapi juga membawa Undana bersaing di tingkat global, dan sebagai pemerintah daerah harus berbangga karena Undana kini berubah status menjadi BLU,” katanya.

Tak hanya BLU, namun Gubernur Frans juga mendukung adanya pola ilmiah pokok pertanian lahan kering yang kini dikembangkan lagi menjadi lahan kering kepulauan, yang mencakup berbagai disiplin ilmu. “Undana saatnya menjadi tempat belajar bagi daerah lain yang punya iklim dan geografis yang sama. Jangan ampai Undana belajar ilmu lahan kering kepulauan di Jawa Barat dan Bali. Maluku harus belajar di sini. Undana harus menjadi pelopor dan teladan di daerah ini,” tandasnya.

Dalam situasi bangsa saat ini di NTT, Undana harus tampil menunjukkan kesetiaan kepada empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-Undan Dasar 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. “Di tingkat pemerintah saya telah menyatakan sikap bahwa NTT selalu taat pada empat pilar dan menolak radikalsme dan terorisme. Ini mesti menjadi sikap bersama dari masyarakat terutama Undana. Sehingga kita tidak diplesetkan nasip tidak tentu, nanti Tuhan tolong. Sekarang harus mengubahnya, NTT nusa terindah toleransi,” bebernya. Ia mengatakan, Dengan usia 55 tahun, Undana sebagai Perguruan Tinggi tertua di NTT akan maju ke depan. “Selagi saya menjadi gubernur, saya akan terus memberi dukungan untuk kemajuan Undana,”ujar Lebu Raya.

Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L.Benu, M.Si.,Ph.D dalam pidato wisuda menegaskan, di kehidupan nyata, keberhasilan seorang wisudawan tidak lagi diukur dengan IPK tinggi, melainkan dengan kemampuan untuk menentukan pilihan yang tepat dengan cepat. “Saya percaya melalui gemblengan almamater Undana, para wisudawan mampu membuat pilihan tepat dan cepat untuk masa depan masing-masing,” katanya.

Ia mengatakan, wisuda periode September yang bersamaan dengan dies natalis Undana merupakan saat yang membahagiakan karena menandai sebuah capaian dan sekaligus permulaan. Karena itu, Undana perlu melakukan refleksi diri. Pihaknya bersyukur kepada para pendahulu telah menetapkan moto Undana sebagai penggerak cita-cita mulia juga menetapkan visi-misi sebagai universitas berwawasan global. Untuk itu, Undana telah berkomitmen mengembangkan pendidikan yang dilandasi nilai-nilai kebangsaan, dimana Undana tidak pernah menghapus mata kuliah Pancasila dalam kurikulum sejak berdiri.

Selain itu, Undana telah berkomitmen mengembangakan pendidikan berciri lokal dengan menetapkan lahan kering kepulauan sebagai pusat keunggulan Undana. Pasalnya, kondisi iklim semi-ringkai di NTT menjadikan lahan dan laut di seluruh NTT sebagai lahan kering. Rektor, Fred Benu mengaku, banyak pihak yang masih memandang lahan kering kepulauan sebagai hambatan bukan sebagai peluang. Dengan dukungan Gubernur dan para bupati di NTT, Undana telah membangun Laboratorium Lapangan Lahan Kering Kepulauan untuk melengkapi laboratorium terpadu sains yang kini sudah operasional.

“Kami melakukan itu sebagai bagian dari cita-cita mulia kami untuk meningkatkan pelayanan kepada para mahasiswa dan para pemangku kepentingan lainnya,” ujar Prof. Fred Benu. Perjuangan, katanya, untuk meningkatkan layanan juga telah dilakukan yakni dengan berhasil mengubah status kelembagaan Undana dari PT satuan kerja ke PPK-BLU. “Dengan perubahan ini kami dituntut untuk berani berubah dalam banyak hal. Tak hanya dalam struktur organisasi, tak hanya dalam pengelolaan melainkan berubah dalam paradigma tata kelola. Dengan pola pikir tersebut, dosen dan tenaga kependidikan tidak sekedar menjadikan Undana sebagai tempat bekerja, tetapi sebagai tempat berkontribusi,” jelasnya.

Ia meminta para wisudawan agar jangan menunggu formasi ASN, sebab bila demikian maka para wisudawan akan kehilangan waktu dan peluang ketika orang lain telah melakukan kegiatan wirausaha, yang seharusnya para wisudawan mampu melakukannya. Ia menegaskan, tantangan di dunia nyata tidak mudah, tetapi Undana telah mendidik agar para lulusan berani dalam menghadapi tantangan dan memenangkan peluang. “Saudara-saudari telah memulainya dengan wisuda pada hari ini. Atas capaian yang sangat membahagiaan itu, perkenankan saya atas nama pribadi dan seluruh sivitas akademika Undana menyampaikan selamat kepada para wisudawan semua, juga kepada para orangtua/wali,” pungkasnya.

Sementara Ketua APU Undana, Drs. Tobe dalam sambutannya menugkapkan sejarah berdirinya Undana, diantaranya tentang Undana yang didirikan 1 September 1962. Berdirinya Undana juga, kata Tobe, merupakan hasil dari pemekaran Sunda Kecil, yang terdiri dari Bali, NTB dan NTT. Undana didirikan oleh Pemerintah Pusat, karena ada dorongan kebutuhan dari tokoh masyarakat dan para pendahulu bangsa di NTT saat itu, seperti Almarhum W. J. Lalamentik. Kehadiran Undana adalah untuk mencardaskan anak-anak bangsa yang ada di NTT maupun Indonesia pada umumnya. Ia mengatakan, sumbangan Undana bagi NTT, salah satunya adalah menjadi pimpinan di pemerintahan maupun di bidang swasta.

Sejak berdiri sampai dengan sekarang, Undana telah dinakhodai oleh sembilan Rektor yakni: Mohamad Salim,SH (1962-1967), Letkol Elias Tari lebih tenar dengan panggilan El Tari (1967-1968), Prof. Mr.Soetan Mohamad Sjah (1968-1976), Drs. Urias Bait (1976-1977), Prof. Frans E.Likadja, SH (1978-1987), Prof.Dr. Mozes R.Toelihere,M.Sc (1988-1996), Prof.Dr. August Benu, MS (1996-2005), Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App.Sc.Ph.D (2005-2013) dan Prof. Ir. Fredrik Lukas Benu, M.Si.,Ph.D (2013-2017). Karena itu, ia meminta agar pihak Undana dapat menyusun buku berisi kajian historis Undana. Karena, sebagai orang-orang yang tidak melupakan sejarah. [rfl/ovan/ds]

Add comment

Komentar anda sangat penting, oleh karena itu periksa komentar dengan seksama sebelum mengirimkan. Pertahankan toleransi antar suku, ras dan agama.


Security code
Refresh