Konjen India Tawar Kerja Sama Undana
24/11/2017
article thumbnail

Konsulat Jenderal (Konjen) India menawarkan bantuan kerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) guna mengembangkan proses belajar-mengajar dengan jalan meningkatkan kerjasama, terutama di bida [ ... ]


Mahasiswa Bagian dari Kekuatan Perubahan
24/11/2017
article thumbnail

Mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) diminta harus beradaptasi dengan tuntutan pergerakan civil society yakni menjadi elemen mahasiswa itu sendiri sebagai bagian dari kekuatan perubahan dan sek [ ... ]


Artikel Lainnya

Konjen India Tawar Kerja Sama Undana

Konsulat Jenderal (Konjen) India menawarkan bantuan kerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) guna mengembangkan proses belajar-mengajar dengan jalan meningkatkan kerjasama, terutama di bidang pendidikan tinggi. Hal itu terungkap pada kunjungan Konsulat Jenderal (Konjen) India di Bali, R.O. Sunil Babu ke Undana yang diterima langsung oleh Rektor, Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D, diruang kerja rektor lantai dua Undana Penfui, Senin, (21/11).
Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Ir.I Wayan Mudita,M.Sc.,Ph.D mengatakan, dalam pertemuan tersebut Konjen Sunil menyampaikan baru genap satu tahun ia menjabat sebagai Konsulat Jenderal India di Bali. Karena baru setahun menjebat, sehingga Sunil ingin berkunjung keseluruh wilayah kerjanya yang mencakup NTT, Maluku, Papua, seluruh Sulawesi dan dua provinsi di Kalimantan yaitu Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Mahasiswa Bagian dari Kekuatan Perubahan

Mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) diminta harus beradaptasi dengan tuntutan pergerakan civil society yakni menjadi elemen mahasiswa itu sendiri sebagai bagian dari kekuatan perubahan dan sekaligus untuk tetap sebagai komponen yang dinamis dalam mengisi peran dan fungsi yang komplementer bagi bela negara.
Permintaan tersebut disampaikan Komandan Lanud El Tari, Kolonel Pnb. Ronny Irianto Moningka, ST.,M.M, saat membuka kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Bela Negara yang diikuti sekitar 600 orang mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi Undana di halaman depan hangar Lanud El Tari Kupang, Jumat, (24/11).
Dengan dibukanya kegiatan pelatihan bela negara ini, kata Ronny, agar para mahasiswa Undana dapat mengikuti dengan tertib guna menumbuhkembangkan jiwa cinta tanah air, bangsa dan negara Indonesia. “Jadi latihan ini bukan berhenti sampai disini saja, namun semua ini merupakan awal mahasiswa mengabdikan diri kepada nusa dan bangsa. Melalui pelatihan dan pendidikan bela negara selama empat hari ini, diharapkan agar para mahasiswa Undana ini menjadi contoh dalam masyarakat dengan bekal dasar bela negara untuk diimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam sikap, ketrampilan, kedisiplinan, serta kepemimpinan generasi muda yang akan menjadi generasi penerus bangsa yang tentunya diharapkan dapat melanjutkan pembangunan pada masa yang akan datang,” katanya.

Pesan Perjuangan 3 Pahlawan Nasional Warnai Upacara Bendera 10 November di Undana

Jumat 10 November 2017 pukul 07.30, Universitas Nusa Cendana (Undana) memperingati 10 November sebagai hari pahlawan nasional yang ke-72 melalui upacara bendera yang dipimpin langsung oleh Rektor, Prof.Ir.Fredrik L. Benu,M.Si.,Ph.D, dengan dihadiri para dosen, pegawai dan mahasiswa penerima beasiswa. Acara tersebut, berlangsung di halaman depan gedung rektorat Undana Penfui. Dalam sambutannya, Rektor, Prof. Fred L. Benu mengatakan, minimal dalam dua tahun terakhir ini, seluruh peringatan hari-hari besar nasional, kita selalu lakukan dengan cara upacara bendera bersama tidak saja di Undana, tetapi di seluruh instansi pemerintah yang ada di negeri ini. Itu tidak lain karena kita merasa bahwa kita perlu kembali memupuk jiwa nasionalisme karakter kebangsaan kita, seiring dengan semakin dirasakan turunnya kesadaran nasionalisme kita. Oleh karena itu, kata Fred Benu, pemerintah pusat menganjurkan agar hari-hari besar nasional tersebut dirayakan dengan upcara bersama, tidak lain karena kita ingin kembali meningkatkan kesadaran nasionalisme kita, rasa keindonesiaan kita. Walaupun kegiatan seperti ini dulunya sering kita lakukan, tetapi pada saat itu kita merasa ini hanya suatu rutinitas serimonial belaka.

Bahas Pembangunan Daerah Tertinggal

  • Bappenas Gelar Seminar Akhir EKPD

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia menggelar seminar akhir Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) “Pembangunan Daerah Tertinggal” di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tahun 2017 di Ruang Aula Lantai Tiga Gedung Rektorat Undana, Senin (31/10). Dalam seminar tersebut ada dua daerah tertinggal di NTT yang dibahas yaitu Kabupaten Sabu Raijua dan Ende.

Kasub Direktorat Pemantauan, Evaluasi dan Pengendalian Pembangunan Daerah, Afwandi dalam sambutannya mengatakan, EKPD tahun 2017 ini sedikit berbeda, karena sebelumnya Bappenas bekerjasama dengan 37 Provinsi, sedangkan tahun 2017 ini Bappenas lebih fokus pada daerah-daerah yang tertinggal. “Kita tahu banyak daerah yang tertinggal, namun kita dalami dua kabupaten tertinggal di NTT, selain 7 Provinsi lainnya,” sebutnya.

Ia berharap, ada hal-hal yang bisa didalami, baik itu langkah-langkah konkrit yang dapat dilakukan untuk pengentasan kemiskinan di tahun 2019. Sementara, tahun 2018, Bappenas akan menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang Nasional (RPJMPN). Karena itu, hasil diskusi nanti diharapkan agar menjadi input dalam penyusunan RPJMPN. Ia mengaku, evaluasi yang dilakukan terlihat sangat sulit mencapai target yang ditetapkan, baik itu tentang evaluasi kebijakan pemerintah daerah dan bagaimana pusat-pusat pertumbuhan di NTT dan menyusun rekomendasi. “Semuanya dilakukan terhadap apa yang akan dicapai. Yang diharapkan adalah satu sampai empat evaluasi di dua Kabupaten , yaitu Sabu Raijua dan Ende secara mendalam,” katanya. Ia juga berharap, seminar tersebut dapat menjadi wahana interaksi dengan pemerintah kabupaten.

Tingkatkan Kekayaan Intelektual, Dosen Harus Rajin Meneliti

Untuk meningkatkan jumlah kekayaan intelektual (KI), para dosen di perguruan tinggi se-Indonesia harus rajin meneliti. Pasalnya, KI menjadi kunci ketahanan ekonomi sebuah negara maju maupun negera yang tengah beregerak maju. Hal ini disampaikan Direktur Pengelolaan Intelektual Kemenristekdikti, Dr. Sudjaga ketika memberikan materi tentang ‘Pentingnya Kekayaan Intelektual Bagi Institusi Adademik dan Akademisi’ pada Sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan di Lingkungan Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi di Ruang Aula Lantai Tiga Rektorat Undana Penfui, Selasa (10/10).

Ia memaparkan, Indonesia yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) berada pada posisi 16 dari negara-negara yagn tergabung dalam G-20. Selain memiliki SDA, alasan utama sumber daya KI menjadi kunci ketahanan ekonomi suatu negara maju, karena perputaran perekonomian dunia dikuasai asset harta benda bergerak tak berwujud (intangible assets) dengan total 70 persen,sedangkan harta benda berwujud (tangible assets) sebesar 30 persen. Dr. Sudjaga mengatakan, terdapat 12 faktor penentu daya saing global, dan dua diantaranya yang berhubungan dengan dosen adalah pendidikan tinggi dan pelatihan dan juga inovasi.

Tingkatkan Daya Saing Bangsa

© Mahasiswa Harus Miliki Modal Intelektual

GUNA meningkatkan daya saing bangsa, mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) harus miliki modal intelektual, baik itu yang dapat dilihat maupun yang tidak dapat dilihat. Sebab, dengan dimilikinya modal intelektual, maka seseorang dapat menciptakan inovasi atau temuan yang pada gilirannya akan memberikan nilai bagi perusahaan di level mikro dan kesejahteraan di level makro atau bangsa. Demikian sari pendapat Prof. Dr. Hamidah, SE., M.Si ketika tampil sebagai pembicara tunggal pada Kuliah Umum Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Undana dengan tema ‘Peningkatan Modal Intelektual untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa Indonesia’ yang dipandu Moderator yang juga Sekretaris Jurusan Pendidikan Ekonomi Yakob Abolladaka, S.Pd, MM di Aula lantai tiga Rektorat Undana Penfui, Kamis (5/10).

Dikatakan, untuk bersaing, tidak hanya pada kepemilikan akta berwujud, tetapi lebih pada inovasi, sistem informasi, pengelolaan organisasi dan sumber daya manusia. Karena itu, Guru Besar Ekonomi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini meminta agar setiap mahasiswa harus membekali diri dengan pengetahuan dan teknologi. Sebab, jika manusia memanfaatkan seluruh kemampuannya, maka akan menghasilkan kinerja yang luar biasa. Merujuk pada data “Global Talent Competitiveness Index 2017 for Asia Pasifik, maka indeks kompetitif Indonesia kini berada pada urutan 90. Sementara, sebut Prof. Hamidah, negara tetangga, seperti Singapura berada pada posisi dua, Thailand 73 dan Vietnam 86. Ia mengatakan, dengan dimiliki modal intelektual, maka akan mendukung kinerja keuangan perusahaan dan kinerja non keuangan.

Mahasiswa Undana Siap Kawal Pancasila

Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D menegaskan, sekitar 28 ribu mahasiswa Undana sebagai generasi muda siap menjaga dan mengawal Pancasila. “Kehadiran kita pagi ini untuk menyatakan sikap terhadap polemik G30S/PKI, juga sebagai bagian dari komitmen moral civitas akdemika Undana untuk menjaga Pancasila,” tegas Prof. Fred Benu saat memimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang digelar di Pelataran Bagian Timur Gedung Rektorat Undana Penfui, Senin (2/10).

Dikatakan, hadirnya sejumlah mahasiswa Undana menunjukan bahwa generasi muda Indonesia siap mengawal tegak dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila. “Kita harus mengangkat ikrar kesetiaan terhadap Pancasila. Karena Pancasila digali dari dari bumi NTT, dan itu adalah legacy terbesar bangsa Indonesia yang digali dari bumi NTT,” paparnya.

Prof. Nyoman Mahayasa Dapatkan Dua Hak Paten

[undana.ac.id], sebagai universitas yang memiliki visi universitas berorientasi global dalam menyelenggarakan pendidikan menuju kelas dunia, sudah menjadi kewajiban bagi para dosen maupun mahasiswa Undana untuk aktif melakukan riset yang bermanfaat sebagai kontribusi kepada masyarakat. Ambisi Undana menjadi universitas riset harus dibuktikan dengan adanya hak paten sebagai salah satu indikatornya.

Salah satu dosen senior Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof.Dr.Ir. I Nyoman W. Mahayasa,MP sudah membuktikan kemampuannya dengan perolehan hak Paten atas temuan-temuannya. Tercatat hingga saat ini, dua hak paten atas namaya yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan HAM yaitu, “Proses Pengolahan Buah Lontar Menjadi Dodol dengan Hasil Ikutannya” Nomor ID 0020394 (Bulan Desember 2007). Serta “Proses Perolehan Sari dari Serabut Buah Lontar (Borassus) yang Sudah Masak Digunakan Sebagai Sirup” tanggal penerimaan 15 Desember 2011 dengan Nomor Paten IDP000044836 dan tanggal pemberian, 01 Maret 2017. “Jadi masih ada lagi satu temuan yang sedang dalam proses pengajuan hak Paten, yaitu “Pembibitan Lontar dengan Teknik ‘MHS’ dengan Nomor Paten P.00201404101, stik serabut buah lontar P 00201507982 dan teknik penurunan kadar tarin (rasa pahit) pada pulp buah lontar (borasus) P.00201407037.

“Temuan ketiga ini sedang dalam proses pemeriksaan secara substantif melalui proses tahapan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, sehingga saya yakin dalam waktu dekat saya akan mendapat tiga hak Paten temuan dalam penelitian saya pada tahun ini,” kata Prof. Nyoman Mahayasa.

Page 1 of 12

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »